Technopark Indonesia

Technopark Indonesia
Wisata Edukasi dan Sains

Monday, February 16, 2015

Siap-siap, Tujuh "Techno Park" Bakal Hadir di Indonesia




CIBINONG, KOMPAS.com - Selain mengubah konsep Cibinong Science Center (CSC) menjadi Science Techno Park (STP), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga berencana membuat 7 Techno Park di Indonesia pada tahun 2015.
Ketujuh Techno Park tersebut akan dibangun di Tual (Maluku), Ternate(Maluku), Mataram (Nusa Tenggara Barat), Samosir (Sumatera Utara), Tasikmalaya (Jawa Barat), Banyumulek (Lombok, Nusa Tenggara Barat), dan Enrekang (Sulawesi Selatan).
Kepala Pusat Inovasi LIPI, Nurul Taufiqu Rochman, mengatakan pembangunan ketujuh Techno Park tersebut ditujukan agar masyarakat dapat merasakan langsung teknologi yang diciptakan oleh LIPI. Hal ini dimaksudkan agar teknologi tersebut dapat membantu masyarakat menumbuhkan perekonomian.
“Techno Park tersebut nantinya akan menjadi pusat diseminasi teknologi kepada masyarakat di daerahnya masing-masing. Kami berharap dengan adanya Techno Park tersebut, daerah akan bertumbuh ekonominya dengan berbasis pada inovasi teknologi,” ujar Nurul saat ditemui Kompas.com di gedung Pusat Inovasi LIPI, Cibinong, Senin (09/02/2015).
Guna meningkatkan pertumbuhan perekonomian masyarakat, lanjut Nurul, ketujuh Techno Park tersebut akan disesuaikan dengan bidang pencaharian utama masyarakat di daerah masing-masing.
“Kami sesuaikan teknologi di Techno Park sesuai bidang masing-masing daerah. Wilayah Samosir dan Enrekang untuk pengembangan energi, Tual, Ternate, dan Mataram untuk kemaritiman, Tasikmalaya dan Banyumulek untuk pertanian,” tandas Nurul.
Untuk ketujuh Techno Park, Nurul mengatakan dana yang dialokasikan senilai Rp 5 miliar pada masing-masing pembangunan di tiap daerah.

http://properti.kompas.com/read/2015/02/10/080000821/Siap-siap.Tujuh.Techno.Park.Bakal.Hadir.di.Indonesia

Saturday, February 7, 2015

Pantai Baru di Bantul akan dijadikan techno park

www.technoparkindo.com


Merdeka.com - Sekilas Pantai Baru yang berlokasi di Pandansimo, Bantul, DIY, tidak berbeda dengan pantai pada umum. Namun jika ditilik bagaimana roda ekonomi warga di sekitar pantai yang sebagian adalah nelayan, Pantai Baru ini mempunyai teknologi sendiri untuk memberikan energi listrik pada warga dan nelayan.

Hanya berjarak sekitar 500 meter dari pantai, berdiri beberapa kincir angin yang memberikan sumbangsih besar bagi kehidupan di sana.

"Di sini sudah dibangun kincir angin sejak mulai tahun 2007, tidak menggunakan genset, tapi pakai angin dan juga panel surya," kata Asisten Deputi Jaringan Iptek Daerah, Momon Sadiyatmo saat menyambut kedatangan Menteri Koordinator Kemaritiman Indroyono Susilo di Pantai Baru, Jumat (6/2).

Teknologi hybrid panel surya dan angin ini dibangun, sebagai upaya pemerintah untuk menghidupkan pariwisata dan juga kegiatan nelayan. Dari kincir angin tersebut, daerah yang belum dialiri listrik PLN tersebut bisa terang pada malam hari.

"Mendongkrak pariwisata, ya ini harus dihidupkan. Jalan terang, warung terang, nelayan pun bisa dapat es baru dengan mudah karena ada mesin es yang dialiri listrik dari kincir juga," ujarnya.

Kincir angin tersebut bisa menghasilkan 62.000 watt listrik. Jumlah tersebut cukup untuk membuat kawasan menjadi terang. Sejak dibangun, sedikitnya perputaran uang sebesar Rp 5 miliar di Pantai Baru pertahun.

Sementara itu Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indroyono Susilo mengaku gembira ada pantai yang menggunakan teknologi terbarukan. Dia pun mendaulat kawasan Bantul sebagai salah satu kawasan yang nantinya akan dijadikan science and techno park, yang rencananya hanya akan dibangun di 100 kabupaten di Indonesia.

"Saya senang, di tempat lain itu banyak yang gagal, tapi di sini berhasil. Tolong nanti ini jadi prioritas untuk science and techno park ya," ujarnya.

Dia menjelaskan science and techno park merupakan program yang diminta oleh Presiden Jokowi, untuk dikembangkan dan dikerjakan cepat.

"Ini nanti tinggal dikembangkan saja, diperbesar. Konsepnya kurang lebih seperti ini, tapi lebih besar," tandasnya.

BAGAIMANA DENGAN DAERAH ANDA ? Hubungi http://www.technoparkindo.com

Wednesday, January 14, 2015

Wisata Pendidikan

WISATA PENDIDIKAN
Pengertian wisata pendidikan
Wisata Pendidikan merupakan suatu program yang menggabungkan unsur kegiatan wisata dengan muatan pendidikan didalamnya. Program ini dikemas sedemikian rupa menjadikan kegiatan wisata tahunan atau kegiatan ektrakulikuler memiliki kualitas dan berbobot. Materi-materi dalam pemanduan telah disesuaikan dengan bobot siswa dan kurikulum pendidikan. Setiap kali mengunjungi obyek wisata akan disesuaikan dengan ketertarikan obyek dan bidang ilmu yang akan dipelajari.
Keanekaragaman budaya dan obyek wisata membuat lebih dari 1 juta wisatawan datang berkunjung. Program Wisata Pendidikan yang telah lama diluncurkan sehingga menjadi suatu kebutuhan bagi sekolah untuk membina dan mendidik para siswa. Selain program pembelajaran di dalam kelas, Program wisata Pendidikan telah terbukti efektif untuk meningkatkan pola pembelajaran dan sosialisasi para siswa.
Program Wisata Pendidikan juga didukung oleh para kalangan akademisi perguruan tinggi dalam menyampaikan materi dilapangan. Sehingga program ini betul-betul disusun untuk memenuhi kegiatan wisata sekolah dengan berkualitas. Program wisata pendidikan sudah saatnya dikembangkan di setiap sekolah sebagai proses pembelajaran siswa tentang cinta bangsa, negara dan tanah air.

Idealnya wisata pendidikan didesain khusus untuk memenuhi kapasitas ilmu pengetahuan para pelajar untuk mengisi wawasan kebangsaan melalui kegiatan perjalanan, mengenal wilayah dan potensi sumber daya lokal antarkabupaten, provinsi serta antarpulau di Indonesia. Kegiatan perjalanan dalam tur wisata pelajar akan berdampak luas bagi pengembangan ekonomi di daerah karena dapat mendukung pergerakan ekonomi rakyat sekaligus membuka kantong-kantong seni dan budaya yang perlu diketahui pelajar. Sangat diharapkan kegiatan wisata pendidikan dapat menjadi sarana pelajar untuk melestarikan budaya dan mengenalkan nilai luhur sejarah dan budaya bangsa Indonesia.
Prospek wisata pendidikan berbasis pelajar sekolah di Indonesia diprediksikan makin cerah. Jika jumlah pelajar di tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di Indonesia sebanyak 39,2 juta orang seperti yang dicatat Badan Pusat Statistik (BPS), bisa dibayangkan besarnya potensi wisata pendidikan di Indonesia. Dengan pergerakan pelajar sebanyak itu ke berbagai daerah di Indonesia, bisa dibayangkan nilai rupiah yang bisa berputar karena dibelanjakan oleh mereka saat beriwisata di objek wisata di berbagai daerah di negeri ini.
Konsep wisata pendidikan sengaja didisain khusus untuk memenuhi kapasitas ilmu pengetahuan para pelajar. Dengan demikian mereka akan mampu mengisi wawasan kebangsaan dengan kegiatan perjalanan wisata mengenal wilayah dan potensi sumber daya lokal antardaerah, kabupaten, provinsi serta antarpulau di seluruh negeri ini.
Kegiatan perjalanan wisata pelajar akan menjadi pergerakan ekonomi rakyat, sekaligus membuka kantong seni dan budaya yang perlu diketahui dan dipahami oleh para pelajar. Karena itu, wisata pelajar diharapkan menjadi sarana pelajar untuk ikut melestarikan budaya dan mengenal nilai luhur sejarah dan budaya bangsa Indonesia.


Dari kegiatan tersebut diharapkan banyak bermunculan ragam obyek wisata yang bisa dimanfaatkan oleh penjual jasa pariwisata, sehingga dapat mendukung terciptanya lapangan kerja bagi masyarakat kalangan bawah. Dengan demikian objek wisata pendidikan, seni dan budaya yang dikunjungi pelajar dapat memberikan lapangan kerja bagi warga setempat, sehingga ketika objek wisata tersebut berkembang dapat dipetik manfaatnya oleh pemerintah dan masyarakat daerah itu. Melalui promosi, program Wisata Pendidikan Cinta Indonesia yang dikhususkan untuk pelajar sekolah, dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena diprediksikan kegiatan ini mampu mengentaskan warga sekitar objek wisata menuju kehidupan yang lebih baik. Dengan menggerakkan arus pelajar sekolah untuk mengikuti program wisata pendidikan dengan mewajibkan pelajar mengikuti studi banding ke berbagai daerah, akan memberikan angin segar bagi pembangunan pariwisata nasional.


APAKAH DAERAH ANDA SUDAH MEMPUNYAI DESTINASI WISATA PENDIDIKAN ?
Hubungi kami untuk Free Konsultasi
www.technoparkindo.com


sumber : http://kel5-feareg.blogspot.com/

Monday, December 29, 2014

Pengembangan Pariwisata Daerah Kabupaten Pemalang ( Radar Tegal 29/10/2013) ( dokumentasi)

Widuri Tak Bersolek Lagi
Widuri..elok bagai rembulan ..oh sayang.. Kalimat itu mengingatkan kita pada sepenggal bait lagu Bop Tutupoli yang terkenal di era 70an.  Tentu kita tidak akan membicarakan lagu Widuri, melainkan Widuri yang sudah dikenal sebagai tempat obeyk wisata pantai khususnya daerah Pemalang dan sekitarnya, masihkah elok bagai keindahan rembulan di malam hari ? Berbicara mengenai Widuri kita akan menemukan kawasan Pantai yang indah dan teduh, dengan naungan vegetasi berupa pohon-pohon besar berumur ratusan tahun dan sunset yang menawan.  Jarang kita menemukan pantai dengan kerimbunan seperti di Widuri. Di lengkapi dengan waterpark yang , seakan melengkapi tren sekitar tahun 2008an, dimana banyak pihak  kepincut untuk membangun waterpark. Tren tersebut membuat waterpark atau waterboom menjamur dimana-mana, baik yang dimiliki oleh pemerintah maupun swasta. Terlepas dari segala hiruk pikuk tersebut diawal niat baiknya adalah dilandasi semangat memajukan pariwisata di daerah dengan mengembangkan obyek wisata yang ada.  Dengan melihat kondisi sekarang pertanyaannya adalah What’s next  ? Pariwisata berasal dari bahasa Sansekerta , pari yang berarti “banyak atau berkeliling” wisata yang berarti “ bepergian”, (suwena,2010) dapat dikatakan bahwa pariwisata merupakan aktivitas orang bekeliling atau bepergian ke suatu tempat. Dalam pembangunan ekonomi pariwisata sering disebut “pasport to development”, “invisible export” (pitana,2002) yang berarti bahwa pariwisata merupakan unsur penting pembangunan ekonomi suatu negara atau daerah. Dalam UU No.10/2009 tentang Kepariwisataan jelas dikatakan bahwa pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, pemerintah dan pemerintah daerah. Pengembangan obyek wisata didaerah tidak lepas dari tiga pilar utama yaitu masyarakat, swasta dan pemerintah. Kita dapat melihat bahwa banyak daerah memiliki potensi wisata baik berupa obyek wisata maupun atraksi wisata yang belum dimanage dan digarap dengan baik sehingga mempunyai nilai jual ekonomi yang menguntungkan dan berkesinambungan serta berwawasan lingkungan . Aspek kepariwisataan tersebut tidak lepas dari subsistem lainnya seperti politik, ekonomi, sosial budaya, fasilitas, peraturan daerah dan lainnya, dalam hubungan saling ketergantungan dan saling terkait (interconnectedness). Dalam pembangunan pariwisata di daerah dibutuhkan peranan dan kemauan pemerintah daerah dalam hal ini kesiapan atas regulasi dan pengembangan SDM pariwisata yang mumpuni untuk dapat mengelola suatu obyek wisata yang sudah dibangun dengan dengan dana APBD yang notabene merupakan dana dari masyarakat. Selama ini banyak pengelolaan pariwisata didaerah yang tumpang tindih yang disebabkan oleh kegiatan pengelolaan yang “setengah hati” maupun kepentingan-kepentingan minor sehingga potensi yang ada tidak dapat digali secara maksimal. Banyak daerah yang sadar dan segera bangkit untuk melakukan pembenahan pengolaan obyek wisata setelah menyadari bahwa obyek wisata yang dulu susah payah dibangun sekarang mati suri. Jangankan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah maupun meningkatkan perekonomian masyarakat sekitarnya,  untuk menghidupi diri sendiripun obyek wisata di daerah tersebut banyak yang setengah tiang. Dalam pengelolaan suatu obyek wisata, kita tidak bisa hanya mengandalkan dinas atau instansi terkait saja, karena kita menyadari bahwa dalam birokrasi banyak keterbatasaan dan ketidakleluasaan untuk mengembangkan suatu bisnis yang profesional dan berdaya saing. Jalan yang terbaik dalam pengelolaan obyek wisata yang merupakan aset daerah adalah pihak pemerintah daerah menggandeng pihak ketiga, baik itu swasta maupun perusahaan daerah (perusda) untuk dapat mengelola suatu potensi wisata menjadi lebih baik. Template pengelolaan aset daerah berupa obyek wisata itu dapat melalui system BOT ( build, operating, transfer) atau lebih dikenal dengan Bangun Guna Serah (BGS), dimana pihak ketiga atau swasta dapat mengelola suatu obyek wisata dalam jangka waktu tertentu, dengan bagi hasil yang telah disepakati dan setelah jangka waktu pengelolaan berakhir, aset yang ada akan diserahkan kembali kepada pemerintah daerah. Ada sisi menguntungkan dan sisi negatif dari model pengelolaan BOT ini. Menguntungkannya adalah bahwa pemerintah daerah tidak perlu repot untuk mengurus aset obyek wisata yang dimilikinya karena sudah “diserahkan” kepada pihak ketiga. Namun ada sisi negatifnya yaitu, bahwa kearifan lokal yang kadang terabaikan dan terkadang permasalahan yang timbul selama jangka waktu BOT tersebut merupakan hal yang kontraproduktif dari sisi income maupun profesional. Belum lagi banyak contoh bahwa setelah jangka waktu BOT berakhir, pihak pemerintah daerah selaku pemilik aset hanya mendapat residu dari operasional maupun kerusakan fisik dan membutuhkan biaya perbaikan yang tidak sedikit untuk recovery. Model pengelolaan lainnya adalah dengan melibatkan pihak ketiga lainnya yaitu Perusda. Perusda sebagai perusahaan swastanya daerah perlu diberi kesempatan untuk dapat berkembang sebagai suatu pioner daya saing daerah yang notabene akan memajukan perekonomian masyarakat dan menambah Pendapatan Asli Daerah. Beberapa daerah ditanah air sukses melakukan model pengelolaan obyek wisata oleh Perusda, misalnya Kabupaten Purbalingga dengan Obyek Wisata Owabong-nya, dan contoh skala nasionalnya adalah Taman Impian Jaya Ancol. Model pengelolaan ini pemerintah daerah memisahkan aset kekayaan daerah yang berupa obyek wisata melalui penyertaan modal ke Perusda. Melalui penyertaan modal pemerintah daerah masih selaku pemilik atas aset obyek wisata hanya menyerahkan wewenang untuk pengelolaan yang lebih profesional ke perusda. Perusda yang diberi wewenang atas penyertaan modal ini dapat merupakan perusda yang baru ataupun perusda yang sudah ada dan memiliki bidang usaha pariwisata. Perusda selanjutnya sesuai Kepmendagri dan Otda No. 43 Tahun 2000 dapat membuka kerjasama joint operation atau joint venture dengan pihak swasta dalam pengelolaan obyek wisata, secara teknis dapat membentuk suatu Perseroan Terbatas (PT) dimana saham mayoritas masih dimiliki oleh Pemerintah Daerah dalam hal ini melalui Perusda selaku pemilik aset obyek Wisata. Banyak hal menguntungkan dengan model pengelolaan ini, dimana kontrol atas aset masih bisa dilakukan, namun sisi akuntabilitas dan profesionaltitas pun dapat ddipertanggungjawabkan. Pemalang yang memiliki aset sangat berharga yaitu Obyek Wisata Pantai Widuri perlu segera berbenah agar menjadi suatu industri pariwisata yang sehat, berdaya saing , tidak membebani APBD dan menjadi kebanggaan dan menimbulkan multiplier effect ekonomi bagi masyarakat. Pemerintah disini berperan menyiapkan opsi  regulasi dan model pengelolaan terbaik yang dapat menjadikan Widuri sebagai cluster wisata terbaik, sehingga akan mengangkat potensi wisata lainnya.  Dengan pengelolaan yang profesional, Widuri akan memliliki faktor pendorong (push factor) dan faktor penarik (pull factor) bagi Pemalang sebagai salah satu destinasi wisata. Jika dikelola secara profesional tentunya masyarakat akan mengalami metamorfose dalam berbagai aspeknya. Di sisi ekonomi jelas secara langsung ataupun tidak langsung masyarakat akan menikmatinya, tetapi interaksi yang bersifat intesif dan akumulatif antara wisatawan dan masyarakat setempat dapat menimbulkan dampak perubahan sosial budaya baik bersifat positif maupun negatif. Untuk itu menjadi tanggung jawab bersama atas kesiapan kita jika sudah bertekad untuk menjadikan Pemalang yang berdaya saing salah satunya melalui industri Pariwisata. Kita dapat melakukan diversifikasi dan modifikasi sebagai bentuk solusi atas kondisi Widuri sekarang ini. Diversifikasi dan modifikasi  serta packaging disini berhubungan dengan tema wisata yang dibangun harus “branding ” yang unik yang bernilai khas dibandingkan obyek  wisata di daerah lain dan juga di lah dengan sajian atraksi wisata maupun explorasi kuliner yang menarik. Secara geografis kabupaten Pemalang sangat diuntungkan karena berada di wilayah Pantura yang merupakan akses utama perekonomian dimana sarana prasarana akses ke obyek Wisata Pantai Widuri sudah tersedia.  Dengan demikian impian Pemalang yang berdaya saing akan dapat diakselerasi secara nyata. Widuri ..indah bagai lukisan…oh sayang.



Pemalang, 23 Oktober 2013
Yunan Padmowiyoto
Pemerhati Pariwisata
Tinggal di Pemalang

Sunday, December 21, 2014

Menggagas Berdirinya Technopark

Sehabis kuliah beberapa hari yang lalu, penulis sempat berdiskusi kecil dengan seorang rekan terkait dengan berdirinya beragam gedung yang memenuhi tiap sudut Kota Surabaya ini. Ia menyatakan, meskipun kota buaya ini telah berdiri berbagai gedung perkantoran yang megah, rumah sakit, ratusan tempat pendidikan, taman rekreasi hingga pusat perbelanjaan yang menjamur namun ada satu hal yang kurang yakni belum adanya “technopark”.
Entahlah, mungkin karena nama “technopark” itu sendiri yang kurang familiar, sehingga keberadaanya belum terlalu diperlukan. Oleh karena itu, lewat tulisan singkat ini penulis ingin memaparkan apa, bagaimana dan manfaat apa saja yang bisa diambil atas kehadiran sebuah “technopark”. Mudah-mudahan, pasca ini ada itikad baik dari pihak-pihak yang berkompenten untuk turut serta memikirkan model “technopark” yang cocok di kota ini.

Taman Teknologi
Secara bahasa “technopark” dapat diartikan sebagai taman teknologi. Pengertianya disini adalah suatu tempat/kawasan dimana teknologi diaplikasikan. Menurut Budi Rahardjo (2002) ”technopark” diartikan sebagai area perguruan tinggi yang dapat dipergunakan oleh masyarakat industri. Di luar negeri, area seperti bisa juga disebut sebagai “science park”, “science city”, “technopark”, “business park”, “technology corridor”, “technology zone”, dan masih banyak nama lain. Tetapi, intinya tetap mengacu pada arti ”technopark” seperti disebutkan diatas.
Lebih lanjut Budi Rahardjo mengemukakan bahwa tujuan utama pendirian ”technopark” adalah untuk membuat link yang permanen antara peguruan tinggi (akademisi), pelaku industri / bisnis / finansial, dan pemerintah. Technopark mencoba menggabungkan ide, inovasi, dan know-how dari dunia akademik dan kemampuan finansial (dan marketing) dari dunia bisnis. Diharapkan penggabungan ini dapat meningkatkan dan mempercepat pengembangan produk serta mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk memindahkan inovasi ke produk yang dapat dipasarkan, dengan harapan untuk memperoleh economic return yang tinggi. Adanya technopark membuat link yang permanen antara perguruan tinggi dan industri, sehingga terjadi clustering dan critical mass dari peneliti dan perusahaan. Hal ini membuat perusahaan menjadi lebih kuat.

Mutualisme
Pada intinya, keberadaan ”technopark” ingin mengokokohkan kembali hubungan antara industri dengan dunia pendidikan tinggi. Memang, selama ini relasi itu sudah terbangun melalui berbagai program seperti co-op (Co-operative education), PKL (Praktek kerja lapangan), Kulap (kunjungan lapangan) hingga penelitian bersama. Tetapi bentuk kerja sama tersebut belum sepenuhnya berjalan maksimal. Civitas perguruan tinggi lebih banyak ”meminta” ketimbang ”memberi”. Akibatnya, sebagaian pihak industri merasa enggan untuk melakukan kegiatan ”link and match” lebih lanjut.
Tidak demikian dengan kehadiran ”technopark”. Perguruan tinggi (diwakili dosen, peneliti dan mahasiswa) senang dengan adanya technopark di kampus karena mereka dapat langsung berhadapan dengan masalah nyata yang dihadapi oleh industri. Mahasiswa dapat menggunakan pengalamannya ini sebagai referensi ketika dia mencari pekerjaan lain, jika dia tidak tertarik untuk menjadi bagian dari perusahaan yang bersangkutan. Sementara bagi industri adalah adanya akses ke sumber daya manusia (SDM) di kampus. Industri dapat mengakses ide, inovasi, dan teknologi yang dikembangkan oleh para peneliti di kampus.

”Technopark” yang dibangun harus memiliki fasilitas seperti inkubator bisnis, angel capital, seed capital dan venture capital. Stakeholeder yang berperan adalah pemerintah (dalam hal ini bisa pemkot surabaya), peneliti (akademis kampus), komunitas bisnis (industri). Mereka bekerjasama untuk mengintegrasikan penggunaan dan pemanfaatan ”technopark” sebagai bangunan komersial, fasilitas riset, conference center dan bahkan sampai ke hotel. Bagi pemerintah daerah, keberadaan ”technopark” bisa menjadi pencipta lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan asli daerah.
Letak pembanguan fisik ”technopark” sangat bergantung dengan kesepakatan antara pihak perguruan tinggi dengan industri. Untuk kampus-kampus yang masih memiliki lahan luas mungkin tidak akan menjadi soal. Tetapi bagi perguruan tinggi yang wilayahnya sedikit hal ini bisa diakali dengan membangun ”technopark” diluar kampusnya. Tetapi yang prinsip adalah baik kalangan akademik maupun industri bisa dengan mudah dan leluasa untuk melakukan akses disana.

Sebuah ”technopark”yang ideal setidaknya menyediakan tiga akses utama. Pertama, akses kepada pakar yang ada dikampus. Banyak dari industri (terutama menengah) tidak memiliki tenaga ahli dalam bidangnya. Akibatnya inovasi produknya tidak bisa berjalan secara maksimal. Nah, dengan akses kepada pakar maka industri bisa menawarkan kerjasama penelitian industri. Pihak peneliti mendapatkan objek penelitian yang pas, sedangkan industri mendukungnya dengan pendanaan.
Kedua akses kepada fasilitas kampus, seperti perpustakaan, peralatan dan perlengkapan laboratorium, internet center dan fasilitas fisik lainya. Umumnya perguruan tinggi memiliki berbagai peralatan yang canggih, yang mustahil dimiiliki oleh pelaku industri menengah kebawah.
Ketiga bussines center, dimana interface antara perguruan tinggi dengan industri terjadi. Katakanlah begini, jika ada industri memiliki masalah maka ia bisa datang ke bussines center ini untuk berkonsultasi apakah ada sumber daya manusia atau fasilitas yang dapat membantu. Bussines center, jika dikelola dengan baik bisa mendatangkan keuntungan eknomis yang cukup besar.

Prospek Ke Depan
Dengan melihat paparan diatas, sudah seharusnya berdiri model ”technopark” yang pas di kota ini. Bandung misalnya, sudah mulai menggeliat dengan BHTV (Bandung High Tech Valley) dengan ITB (Institut Teknologi Bandung) sebagai motor penggeraknya. Di luar negeri pun, keberadaan ”technopark” telah menjadi salah satu indikator kemajuan.(*)

Dimuat di Jawa Pos, 23 Nopember 2005
Penulis : Nurhadi, Mahasiswa Teknik Fisika ITS

Pemerintah Minta Pemkab Segera Siapkan Lahan untuk Techno Park

Tarakan - Pemerintah serius untuk mendorong kemajuan ekonomi wilayah dan nasional melalui pembentukan Techno Park yang akan dimulai tahun depan. Untuk itu, pemerintah kabupaten diminta untuk segera menyiapkan lahan yang luas untuk pembangunan Techno Park tersebut.

"Kita akan mengembangkan Techno Park di setiap kabupaten. Karena itu siapkan lahan bagi kabupaten yang siap, dan siapkan perencanaannya," ujar Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Andrinof Chaniago di depan pimpinan daerah peserta Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) regional Kalimantan di Kantor Wali Kota Tarakan, Kalimantan Utara, Selasa (16/12/2014).

Andrinof mengatakan, pada level kabupaten akan dibangun Techno atau Science Park, dan pada level provinsi akan dikembangkan zona serupa Puspitek. Zona-zona teknologi itu dalam rangka mendukungg kawasan industri yang juga akan dibentuk. Apalagi pemerintah saat ini telah membentuk 12 kawasan ekonomi khusus (KEK) sehingga kawasan-kawasan tadi bersifat terpadu dan dapat mendorong percepatan kemajuan ekonomi.

"BPPT nanti akan turun membantu ke lapangan. Karena kita ingin pembangunan yang berkualitas," ucapnya.

Andrinof mengatakan nantinya pengembangan industri berskala besar dan strategis dalam Techno Park itu dibiayai dari APBN, sementara untuk yang skala kecil dapat menggunakan APBD.

"Saya kira untuk yang industri kecil dapat dari APBD dan realisasi pemangunannya dapat lebih cepat. Satu atau dua tahun dapat selesai," imbuhnya.

Untuk sektor yang akan dikembangkan dalam Techno Park itu, kata Andrinof, pemerintah pusat dan daerah akan memetakannya agar terintegrasi dengan industri berdasarkan potensi lokal.

Prof Yohanes Surya dari Surya University menambahkan, Techno Park dikembangkan berdasarkan potensi alam setempat. Dia mencontohkan, Marine Techno Park (Taman Teknologi Kelautan).

"Ada apa di Marine Techno Park? Ada industri perikanan. Ada budi daya laut. Ada industri input perikanan, alat tangkap ikan. Kalau sudah ada industri penangkapan ikan, tentu harus ada industri pengolahan, pengalengan dan lain-lain. Karena ada industri perikanan, maka perlu fasilitas lain, perlu infrastruktur akses. Perlu lembaga riset dan lab. Sehingga kalau sudah ada industri perikanan, kan perlu dipasarkan. Nah di situ ada pasar ikan modern. Di situ ada galangan kapalnya, pelabuhannya. Bisa dikembangkan pusat budaya bahari dan lain-lain," jelasnya.

Contoh lain yang dikatakan Surya adalah ICT Techno Park, Herbal Techno Park, Nano Techno Park, Palm Techno Park, dan Cow Techno Park.

"Ini yang macam-macam. Satu arahnya, kembangkan perekonomian lokal. Banyak aktivitas di dalamya yang saling terkait, tapi untuk kemajuan kemakmuran ekonomi rakyat," pungkasnya.

sumber : Ramdhan Muhaimin - detikNews

Thursday, December 11, 2014

Siapa yang bisa membangun Technopark ?

Sebagai suatu bentuk bisnis pariwisata , Technopark bisa dibangun oleh :

1. SWASTA

Kami sudah berpengalaman bekerja sama dengan beberapa investor swasta dalam pengembangan bisnis tempat wisata, seperti waterboom, café, karaoke, wahana technopark dan hiburan lainnya. Kerjasama dengan pihak swasta tentunya diawali dengan tahapan-tahapan standar dalam bisnis, mulai dari pembicaraan awal, letter of intent, masterplan, feasibility study, project, pendampingan management dll. Kami terbuka untuk custom bentuk kerjasama yang diinginkan pihak investor atas pembangunan Technopark. Kami telah bekerjasama dan menjalin hubungan yang baik dengan para kontraktor, maupun supplier yang dibutuhkan untuk proyek Technopark. Kami juga mempunyai sistem pendampingan management yang baik dari segala aspek untuk running usaha Technopark. 

SWASTA APA YANG SESUAI UNTUK MEMULAI USAHA TECHNOPARK ?
Usaha Wahana Wisata Technopark secara khusus tidak mengarah ke spesifikasi investor tertentu. Tentunya dibutuhkan kecukupan modal untuk bisnis Technopark , dan perlu dipahami bisnis Technopark merupakan bisnis , dapat dengan bisnis hotel dan bisnis lain yang bukan merupakan (bisnis jangka pendek), walaupun dalam pembangunannya dapat dilaksanakan bertahap disesuaikan dengan permodalan yang ada. Kami mempunyai tagline . Kami akan menyiapkan bisnis anda dari A-Z dan selama kerjasama yang disepakati. Usaha ini cocok untuk :

PENGUSAHA BARU DI BIDANG PARIWISATA
Pengusaha yang ingin mengembangkan bisnisnya di bidang usaha pariwisata.

PENGUSAHA WATERBOOM ATAU WATERPARK
Seiring menurunnya trend usaha wisata waterboom / waterpark di beberapa daerah, perlu adanya diversifikasi usaha pariwisata yang masih dengan nafas dan idealisme yang ada, dimana Technopark dapat menjadi alternatif utama untuk pengembangan usaha yang ada. Tentunya kita juga harus mempertimbangkan banyak faktor seperti ketersedian lahan pengembangan, permodalan, pangsa pasar dll.

PENGUSAHA PARIWISATA LAINNYA
Pengusaha hotel, rumah makan, wisata alam yang merupakan bagian dari kegiatan industri pariwisata dapat mengembangkan usaha wisatanya dengan wahana Technopark. Banyak pengusaha Hotel dimana tingkat hunian hotelnya belum mencapai rata-rata okupansi yang sehat. Technopark jika memungkinkan dapat dibangun dalam satu area hotel. 
 
2. PEMERINTAH
Pemerintah dalam hal ini bisa Pemerintah Kota / Kabupaten atau Propinsi atau bahkan Pemerintah Pusat. Persoalan mendasar yang selama ini kami alami bekerjasama dalam pemerintah adalah adanya peraturan atau regulasi dimana setiap tahapannya membutuhkan waktu dalam hal ini, perencanaan, sosialisasi, pengajuan, pengesahan dan lain-lain sesuai dengan jenjang birokrasi yang ada. Tahapan ini merupakan aturan main yang memang harus dilaksanakan untuk setiap proyek pembangunan dengan sumber dana pemerintah. Kami berpengalaman dalam pendampingan pengembangan ataupun pembangunan obyek wisata bersama Pemerintah. Pendampingan kami mulai dari sisi legal, bisnis plan , sosialisasi masyarakat, tender, pembangunan dan operasional. Aspek Legal meliputi penyusunan tahapan PROLEGDA , persetujuan dewan, lahan yang merupakan aset daerah , tahapan penyiapan operator, dalam hal ini bisa UPTD (dinas terkait) ataupun Perusda. Jika operator tersebut belum ada, kita berarti juga harus bersama untuk menyiapkan terlebih dahulu. Sumberdana pembangunan technopark oleh pemerintah juga bisa dari berbagai sumber, APBD kabupaten kota/kabupaten, APBD Propinsi, APBN , Dana Alokasi Khusus ataupun bekerjasama dengan swasta dimana atas sumber dana yang berbeda tahapan yang harus kita lalui juga berbeda.
3. PEMERINTAH BEKERJASAMA DENGAN SWASTA 
Pemerintah dapat bekerjasama dengan swasta, baik swasta murni ataupun Perusahaan Daerah atau BUMD untuk membangun dan menjalankan usaha Wisata Technopark, dengan regulasi tertentu yang harus disiapkan mengikuti perundangan yang sudah ada, dalam hal ini Perda, UU Keuangan Daerah dll.